Minggu, 06 Mei 2018

CRITICAL THEORY OF COMMUNICATION IN ORGANIZATION of Stanley Deetz

Di teori ini Stanley Deetz seoraang profesor di Universitas Colorado membuka kedok para perusahaan yang mengatas namakan "bisnis yang baik". Tapi tidak seperti teori kritis yang lainnya, Deetz bukan hanya meng-eksplisit tentang apa yang dia lawan, dia juga menjelaskan tentang apa yang dia lakukan. Dia menyebutnya "partisipasi stakeholder". Dia percaya bahwa semua orang yang secara signifikan akan berefek dari sebuah perusahaan harus mempunyai suara dalam proses pengambilan keputusan. 

CORPORATE KOLONIALISASI DAN KONTROL KEHIDUPAN SEHARI-HARI
Corporate kolonisasi adalah gangguan perusahaan modern dalam setiap area di luar tempat kerja. Secara spesifik Deetz ingin menguji praktik komunikasi dalam organisasi yang merusak semua pengambilan keputusan sehingga mengurangi kualitas, inovasi, dan keputusan bisnis.

INFORMASI ATAU KOMUNIKASI: TRANSMISI ATAU MEMBANGUN MAKNA
Deetz memulai analisisnya dengan menantang pandangannya bahwa komunikasi adalah sebuah transmisi dalam informasi. Meskipun mayoritas komunikasi manusia sekarang mengabaikan source → pesan → channel → receiver konsep komunikasi, saluran model masih di terima dalam organisasi dan di kehidupan sehari-hari. Information model adalah pandangan bahwa komunikasi hanya sebuah saluran transmisi dalam informasi tentang dunia yang sebenarnya. Sedangkan Communication model adalah pandangan bahwa, bahasa adalah medi utama yang dimana realitas sosial di ciptakan dan di pertahankan. 

Di gambar 21-1 menunjukan proses keputusan perusahaan secara sistematis mengeluarkan suara orang-orang secara langsung yang dipengaruhi oleh keputusan tersebut. Setengah bagian bawah di gambar proses pengambilan yang mengundang dialog terbuka antara semua stakeholders. Deetz menyebutnya praktik codetermination. Codetermination adalah kolaborasi mengambil keputusan demokrasi partisipatif di tempat kerja. Di gambar 21-1 menghasilkan empat cara yang berbeda di mana keputusan publik termasuk corporate yang dapat di buat: strategi, persetujuan, keterlibatan dan partisipasi. Analisis Deetz dalam empat corporate praktik ini memberikan inti kritiknya tentang managerialism. 

STRATEGI: TINDAKAN MANAJERIAL YANG JELAS UNTUK MEMPERLUAS KONTROL
Deetz menggambarkan managerialism sebagai wacana berdasarkan "semacam logika sistematis, seperangkat praktik rutin dan ideologi" bahwa nilai mengendalikan semua masalah lainnya. Deetz berfikir bahwa itu terlihat singkat karena mengalihkan perhatian dari sistem manajerial yang gagal berdasarkan kontrol.

CONSENT ATAU PERSETUJUAN: TANPA DISADARI UNTUK MENGUBAH KONTROL
Deetz percaya dalam kapilatisme, tetapi dia yakin bahwa perusahaan tidak masuk akal. Melalui proses Deetz menyebut consent, sebagian besar karyawan rela memberikan kesetiaan tanpa mendapatkan banyak imbalan. Consent adalah proses di mana karyawan secara aktif, meskipun tidak sadar mencapai kepentingan manajerial dalam usaha yang gagal untuk memenuhi kebutuhan mereka sendiri. Manajerialisme mendukung pekerja tanpa disadari melewati proses systematicly distorted communication. Systematicly distorted communication adalah beroperasi di luar kesadaran karyawan, suatu bentuk wacana yang membatasi apa yang dapat dikatakan atau bahkan dipertimbangkan. Proses yang satu ini, Deetz menyebutnya discursive closure, terjadi dalam berbagai cara. Discursive closure adalah penekanan konflik tanpa karyawan sadari bahwa mereka terlibat dalam penyensoran mereka sendiri. 

INVOLVEMENT ATAU KETERLIBATAN: UNGKAPAN GAGASAN TAPI TANPA SUARA 
Keterlibatan karyawan dalam pilihan perusahaan berawal dari kotak saran yang di pasang pada dinding. Deetz mengklaim bahwa demokrasi Jeffersonian pada abad ke-18 liberal berdasarkan tiga gagasan tentang komunikasi: 
1.    Terjaminnya kebebasan bicara secara adil bagi yang membuat suatu keputusan.
2.    Persuasi dan pembelaan adalah cara terbaik untuk mencapai suatu keputusan yang baik.
3.    Individu otonom bisa menentukan pilihan mereka sendiri
Deetz berkata mungkin saja ketika semua stakeholders menyadari bahwa, komunikasi mereka menciptakan realitas daripada hanya menggambarkannya. 

PARTISIPASI: DEMOKRASI STAKEHOLDER ATAU PEMEGANG SAHAM BERAKSI
Dreetz yakin bahwa "Partisipasi demokratis berarti menciptakan warga negara yang lebih baik dan pilihan sosial yang lebih baik, dan memberikan manfaat ekonomi yang penting". Tujuan dari teori ini adalah merebut kembali kemungkinan kekuasaan terbuka. Dreetz menyebutnya stakeholder democracy. Setidaknya ia melihat enam kelompok stakeholder dengan banyak kebutuhan dan keinginan.
1.    Investors mencari keamanan pokok dan pengembalian yang layak atas investasi mereka
2.    Workers mencari upah yang layak, kondisi kerja yang aman, sebuah kesempatan untuk bangga untuk pekerjaan mereka, perlindungan karyawan, dan waktu untuk keluarga.
3.    Consumers mencari barang berkualitas bagus dan pelayanan dengan harga yang wajar.
4.    Suppliers mencari mencari sumber daya mereka dengan pembayaran tepat waktu pada saat pengiriman.
5.    Host communities mencari pembayaran untuk layanan yang menyediakan, pekerjaan yang stabil, perawatan, dan kualitas keluarga dan kehidupan publik meningkat daripada berkurang.
6.    Greater society and the world community mencari peduli lingkungan, ekonomis, sopan, dan perlakuan adil terhadap semua kelompok (ras, etnis, jenis kelamin)

POLITICALLY ATTENTIVE RELATIONAL CONSTRUCTIONISM (PARC)
PARC model adalah konstruktifisme relasional politis penuh perhatian pandangan kolaboratif komunikasi yang berbasis di konflik stakeholder. Dreetz berpendapat teori ini juga bisa berfungsi sebagai teori nizasional atau kritis.

Relational Constructionism (Konstruktivisme Relasional)
Dreetz berpendapat bahwa sebagian besar teori organisasi didasarkan pada beberapa bentuk konstruksi sosial. ia membuat peralihan ini untuk memberi isyarat bahwa ia berbeda dari orang-orang yang berpikir bahwa mereka sedang melihat budaya yang sudah terukir di batu atau sebaliknya mereka yang berpikir bahwa mereka sedang menulis "a blank slate". 
1.    Pemegang saham memiliki ketertarikan yang berbeda, tidak memiliki posisi
2.    Pemegang saham kurang lebih mempunyai level yang sama dalam skil berkomunikasi.
3.    Mengesampingkan hubungan otoritas dan posisi kekuasaan.
4.    Semua pemegang saham mempunyai sebuah kesempatan yang sama untuk mengekspresikan diri mereka.
5.    Pemegang saham ingin membuka untuk menentukan ketertarikannya.
6.    Partisipan secara transparan membagi informasi dan membagi bagai mana mereka membuat suatu keputusan.
7.    Fakta dan pengetahuan ditinjau kembali untuk melihat bagaimana mereka membangunnya.
8.    Fokus pada hasil dan ketertarikan dibanding tawar menawar pada saingan.
9.    Pemegang saham bergabung membuat keputusan dibanding hanya memiliki "perkataan mereka"

Politically Attentive (Perhatian Politik)
Deetz menggunakan "politik" untuk merujuk kehadiran dinamika kekuasaan dalam hubungan. PARC mengusulkan 6 yang hampir selalu bermasalah:
1.    Inner life: perasaan yang ada dan mungkin? praktik organisasi apa yang diperlukan agar perasaan itu muncul?
2.    Identity and recognition: siapa yang terlibat? diberikan identitas, apa yang benar dan tanggung jawab yang mereka lakukan?
3.    Social order: tingkah laku apa, tindakan, cara bicara yang benar? norma dan aturan apa yang mendukung?
4.    Truth: apa yang dipikirkan anggota benar? bagaimana cara mereka mendukung klaim? proses bagaimana menyelesaikan pandangan yang berbeda?
5.    Life narratives: bagaimana cara dunia bekerja untuk mereka? seperti apakah masa depan yang baik dan indah?
6.    Justice: apa itu adil? bagaimana seharusnya membatasi barang dan jasa didistribusikan?   

Sabtu, 05 Mei 2018

CULTURAL APPROACH TO ORGANIZATIONS Of Clifford Greetz & Michael Pacanowsky


KULTUR ADALAH SEBAGAI METAFORA DI ORGANISASI KEHIDUPAN
Setiap organisasi memiliki cara pandangnya sendiri, tergantung bagaimana orang-orang didalamnya mengartikannya. Contoh, ada dua perusahaan memiliki barang yang sama untuk dijual. Perusahaan A lebih mementingkan kualitas produknya dan dijual sedikit lebih mahal sedangkan perusahaan B lebih mementingkan harga murah tetapi produk yang di jualnya kurang berkualitas.

APA ITU KULTUR; APA YANG BUKAN MERUPAKAN KULTUR
Greetz mengakui bahwa konsep kultur sebagai sistem berbagi makna yang agak samar dan susah untuk dipahami. Greetz menggaris bawahi  bahwa masyarakat yang dekat memiliki subkultur dan kontra kultur dalam batasan mereka. Culture performance adalah sebuah tindakan yang dimana para anggota membentuk dan mengungkapkan kultur mereka kepada orang lain.

THICK DESCRIPTION: APA YANG DILAKUKAN ETHNOGRAFER
Greetz menyebut dirinya sebagai seorang ethnografer. Tugasnya adalah memilah-milah makna simbolis dari tindakan orang-orang di dalam kultur mereka. Ethnografer adalah memetakan percakapan sosial; mengetahui cara berpikir mereka, apa yang akan mereka lakukan dan mencari tahu tujuan yang akan mereka lakukan ke depannya. Sedangkan thick description adalah sebuah rekaman dari lapisan yang saling terkait, mendasari apa yang di katakan dan di lakukan oleh orang-orang tertentu. Setelah Greetz mempopulerkan konsep tersebut, sebagian besar etnografer menyadari tugas mereka untuk:
1.    Mendeskripsikan pembicaraan secara akurat dan konteks tindakan dimana mereka akan terjadi.
2.    Menangkap pikiran, emosi, dan berinteraksi di jaringan sosial.
3.    Memberikan motivasi, niat, dan tujuan untuk apa yang orang katakan dan orang lakukan.
4.    Menulis dengan benar, supaya pembaca bisa merasakan apa yang terjadi.
5.    Menginterprestasikan apa yang terjadi dan jelaskan makna di dalam kultur tersebut.

METAFORA: MENGANGGAP SERIUS SEBUAH BAHASA
Metafora dapat memberikan ethnografer tempat awal untuk mengakses makna dari sebuah perusahaan. Metafora menjelaskan apa yang tidak diketahui atau membingungkan dengan menyamakannya dengan gambar yang lebih familiar.

INTERPRESTASI SIMBOLIK DARI SEBUAH CERITA
Pacanowsky menyarankan 3 jenis naratif yang mendramatisir organisasi kehidupan. Corporate stories adalah mengangkat cerita ideologi dan memperkuat kebijakan perusahaan. Contoh, setiap cabang McDonalds mendengar tentang Ray Kroc, ketika ia sebagai ketua, ia mengambil sampah dari parkiran lalu ia memasuki toko. Personal stories adalah cerita yang di ceritakan oleh seorang karyawan yang di tempatkan 'didalam cahaya yang menguntungkan'. Contohnya, jika kamu melihat tayangan ulang dari kantor NBC, kamu akan menyaksikan interview Dwight Schrute dengan kru kamera, selama wawancara ini, ia membicarakan tentang keunggulan sebagai pekerja karyawan dan bagaimana ia berhak menghormati yang lain di perusahaan kertas milik Dunder Mifflin. Collegial stories adalah positif atau negatif anekdot tentang organisasi lain; menggambarkan bagaimana hal-hal "yang benar-benar bekerja". Contoh, ketika kru kamera mewawancarai Dwight rekan kerjanya Jim dan Pam, kita mendengar cerita keanehan eksentrisitas Dwight dan kurangnya kesadaran sosial. cerita ini menggambarkan Dwight adalah seseorang yang tidak bisa serius.

RITUAL: INI SELALU SEPERTI ITU DAN SELALU SEPERTI ITU
Greetz menulisakan tentang adat orang Bali yaitu adu ayam karena kontesnya menunjukan lebih dari game. Pacanowsky setuju dengan Greetz bahwa beberapa ritual (seperti adu ayam di Bali) adalah "pesan" dalam kehidupan kultural.    

DAPATKAH SEORANG MANAJER MENJADI SEORANG AGEN DARI PERUBAHAN KULTURAL?
Simbol adalah alat untuk para manajemen. Jika mereka percaya bahwa kultur adalah kunci untuk komitmen pekerja, produktifitas, dan penjualan, kemungkinan merubah kultur menjadi ide yang menggoda. Menciptakan yang menguntungkan metafora, merencanakan cerita organisasi, dan membangun ritual cara yang ideal untuk membuat mitos perusahaan yang akan membuatnya menarik. 

Minggu, 22 April 2018

APA YANG MEMBUAT TEORI COGNITIVE DISSONANCE BAIK

Teori obyektif adalah kredibel karena memenuhi tujuan pengetahuan ilmiah. teori ini memprediksi beberapa hasil di masa depan dan menjelaskan alasan untuk hasil tersebut. Kali ini, kita akan membahas tentang kebaikan cognitive dissonance yang baik, sesuai dengan yang tertulis di buku A First Look at Communication Theory dari Em Griffin.
1.   PREDIKSI DARI MASA DEPAN
“teori objektif yang baik adalah memprediksi apa yang akan terjadi”. Dalam teori cognitive dissonance menjelaskan bahwa apa yang kita lakukan dapat di prediksi di masa depan seperti sebab dan akibat.  contoh, ketika Billy berteman dengan temannya yang suka meminum minuman keras, dan Billy merasakan ketidaknyamanan ketika berada didekat temannya itu dan akan berdampak buruk baginya maka Billy menjauhi temannya.

2.   PENJELASAN DATA
“teori objektif menjelaskan suatu peristiwa dan perilaku manusia” . Seperti yang di teori cognitive dissonance dari Leon Festinger jelasakan bahwa ada 3 hipotesis yaitu, selective exposure, postdecision dissonance, dan minimal justification. Hipotesis-hipotesis tersebut menjelaskan suatu proses peristiwa dan perilaku manusia.

3.   RELATIVE SIMPLICITY
Relative sederhana. “teori objektif yang baik harus sesederana mungkin tidak dan mudah dimengerti”. Teori cognitive dissonance ini mudah di mengerti dikarenakan terdapat 3 hipotesis yang dijelaskan oleh Festinger. Sebagai salah satu contoh nomor 1 dari hipotesis tersebut adalah selective exposure “menghindari kepercayaan orang lain dan tetap dengan kepercayaan diri sendiri”. Contoh, Arvin berkata bahwa memakan sayur brokoli itu tidak baik karena terdapat pestisida didalamnya, dan  Jhody membantah perkataan Arvin bahwa brokoli itu sehat dan kita bisa menghilangkan pestisidanya dengan cara mencucinya dengan sangat bersih.

4.   HIPOTESIS YANG DAPAT DIUJI
“teori yang baik dapat diuji”. Dengan adanya ketiga hipotesis di teori cognitive dissonance ini tentu dapat di uji dan sudah dijelaskan setiap hipotesisnya. Seperti contoh hipotesis nomer 1 kita dapat menguji mengapa tidak nyaman jika kita berada di lingkungan yang tidak sesuai dengan kita.

5.   PRACTICAL UTILITY
“sebuah teori objektif yang baik harus berguna”. Tentunya teori ini dapat digunakan sehari-hari dan dapat menjadi masukan untuk khalayak supaya mudah bersosialisasi.

6.    RISET KUANTITATIF
“seperti yang dikatakan oleh judul, para ilmuan cenderung menarik angka ketika mereka mengumpulkan bukti untuk mempermudah teori mereka”. Ada dua metode kuantitatif yaitu experimen dan survey. Teori cognitive dissonance ini menggunakan metode kuantitatif experiment. Yaitu dengan, memanipulasi beberapa murid dengan uang untuk mengikuti sebuah pembelajaran dan harus memberikan pedapat yang bagus.

Sabtu, 14 April 2018

SYMBOLIC CONVERGENCE THEORY Of Ernest Bormann

Inti dari teori yang di kembangkan oleh Ernest Bormann ini adalah jika suatu kelompok membagi fantasi yang sama, maka akan menciptakan kesamaan simbolik dan menciptakan kekompakan.

DRAMATISASI PESAN: INTERPRESTASI KREATIF DARI SANA DAN KEMUDIAN
Mendramatisasi pesan adalah bahasa imajinatif dari anggota kelompok yang mendeskripsikan masa lalu, masa datang atau outside event; interprestasi kreatif dan kemudian (there-and-then).  Mendramatisasi pesan juga mengandung (metafora, simile, personifikasi, analogi, anekdot, ellegori, fable, naratif, cerita, atau ekspresi ide kreatif lainnya dan syarat untuk mendramatisasi pesan adalah semua anggota harus antusias.  Contoh: sekelompok remaja sedang camping bersama yang di adakan dari sekolah, lalu mereka berimajinasi jika alas tidurnya menggunakan kasur yang empuk beserta menggunakan AC di setiap tenda, supaya mereka tidak merasa kepanasan saat di siang hari.

REAKSI RANTAI FANTASI: LEDAKAN SIMBOLIK YANG TIDAK DAPAT DIPREDIKSI
Rantai fantasi adalah ledakan simbolik dari kesepakatan hidup didalam sebuah grup merespon dramatisasi pesan dari anggota. Contoh: seorang seorang atlet panjat tebing berkata pada teman terdekatnya bahwa memanjat tebing menguji adrenalin, dan jika ia berada di peringkat satu maka ia akan mendapatkan mendali emas. Lalu, temannya berkata, selain mendapatkan mendali emas uang yang didapat juga lumayan.


TEMA FANTASI—KONTEN, MOTIF, CUES, TIPE
Fantasi adalah kreatif dan imajinatif yang dibagikan dari event yang memenuhi kebutuhan psikologi grup atau retrorikal sebuah grup. Tema fantasi adalah konten dari fantasi yang teratai dalam grup. Berdasarkan dari unit analisis SCT. Contoh: Menurut seorang atlet panjat tebing yang sukses hingga sekarang, menjadi contoh bahwa menjadi seorang atlet panjat tebing tidak selalu menyebabkan kematian. Tema fantasi memiliki 4 Konsep Dasar yaitu:
Contoh: ketika seorang atlet panjat tebing yang bernama Putra, terjatuh saat latihan di atas dinding yang ketinggiannya 10 meter di karenakan kondisi yang kurang memungkinkan sebelum memanjat tebing ia merasa sangat pusing. “kematian Putra bukan karena tidak hati-hati saat latihan, tapi karena ia terlalu memaksakan latihan saat kondisi yang kurang memungkinkan”.
  • Makna: terlalu memaksakan diri disaat kondisi yang kurang fit membunuh Putra.
  • Emosi: Berusaha menjadi yang terbaik dan tercepat hingga sampai atas
  • Motif: Keinginan untuk mendapatkan mendali emas selanjutnya.
  • Aksi: Tetap ingin menjadi atlet panjat tebing
Symbolic cue adalah kesepakatan yang memicu oleh anggota kelompok untuk menanggapi seperti pertama kali mereka berbagi fantasi. Symbolic cue Bisa juga seperti kata sandi, isyarat nonverbal, ungkapan, slogan, guyonan, stiker bemper, atau cara singkat untuk membangun kembali kekuatan penuh fantasi bersama. Contoh: seperti baju yang di pakai para atlet panjat tebing adalah "The real people, not afraid of heights". Tipe fantasi adalah sekelompok tema fantasi terkait; abstraksi yang lebih besar menggabungkan beberapa tema fantasi konkret yang ada ketika makna bersama diterima begitu saja. 

KONVEREGENSI SIMBOLIK: KESADARAN DAN KESATUAN YANG SERING DALAM GRUP
Koveregensi simbolik adalah dua atau lebih dunia simbol pribadi, condong ke arah satu sama lain, lebih dekat bersama, atau bahkan tumpang tindih; kesadaran kelompok. Bormann menggunakan beberapa istilah untuk menggambarkan efek kelompok, consciousness— kesatuan, pertemuan fikiran, saling mengerti, realitas social umum, dan persatuan empatik. Konvergensi simbolis biasanya menghasilkan anggota kelompok cohensiveness (kekuatan) yang tinggi tertarik satu sama lain dan bersatu dalam kesenangan dan kesusahan.

PENGLIHATAN RETRORIKAL: DRAMA KOMPOSIT YANG DIBAGI OLEH KOMUNITAS RETRORIKAL
Fantasi yang dimulai dalam kelompok kecil sering dikerjakan dalam pidato publik, diangkat oleh media massa dan menyebar ke publik yang luas. Rhetrorical Vision atau penglihatan retrorikal adalah drama komposit yang menarik sekelompok besar orang ke dalam realitas simbolis umum. 

Analisis Tema Fantasi
Fantasy theme analysis atau analisis tema fantasi adalah jenis kritikan retoritis yang digunakan untuk mendeteksi tema fantasi dan penglihatan retroris, metodologi interpretif SCT. Analisis tema fantasi juga sebuah tipe spesifik retrorikal kritik yang di terbangun pada asumsi dasar. Pertama, orang membangun realita sosial mereka sebuah premis yang di bagikan oleh banyak teoritis interpretif. Kedua, arti orang, makna motif dan emosi seseorang dapat terlihat dalam retrorika mereka. Jadi ketika sebuah komunitas tersebar mencakup visi retrorikal yang sama, itulah realitas untuk mereka. Berikut ada 4 poin visi retoris:

  • Karakter: apakah para (pahlawan) pelopor untuk di dukung dan penjahat (orang yang tidak sepaham untuk dibenci?
  • Plot Lines: apakah karakter bertindak konsisten dengan visi retoris?
  • Scene: bagaimana deskripsi waktu dan tempat peningkatan dampak  dari drama?
  • Agen Sanksi: siapa atau apa yang mengesahkan visi retoris?
TEORI KE PRAKTIK: ANJURAN UNTUK MENAIKKAN COLLAGE EXPERIENCE
Ketika sebuah grup mulai berbagi drama yang pendapat anda akan mengkontribusi untuk budaya yang sehat, anda harus memilih drama dan feed the chain. Jika fantasi semuanya merusak, buat paranoia atau depresi, cut the chain off sedapat mungkin. Untuk membangun cohensiveness, gunakan personifikasi untuk mengidentifikasi grup anda. Yakinlah berbagi drama untuk menggambarkan sejarah grup anda saat di awal rapat. Ingat bahwa sebuah upaya konsekuensi retrorikal  di pihak anda dapat berhasil memicu reaksi berantai, tetapi fantasi dapat berubah secara tidak terduga. John Cragan dan Donald Shield, menemukan visi retrorikal yang sering di pakai, satu dari tiga pesaing master analog, yaitu: righteous vision (lebih fokus pada tingkat akademis atau nilai), social vision (lebih fokus pada bersosialisasi, menambah teman baru) dan pragmatic vision (lebih fokus dalam mendapatkan pekerjaan yang lebih baik).


Contoh Penelitian:

KOMUNIKASI SIMBOLIK KAUM HOMOSEKSUAL
(STUDI FENOMENOLOGI HOMOSEKSUAL DI KOTA GORONTALO
KECAMATAN KOTA UTARA KOTA GORONTALO
KELURAHAN WONGKADITI TIMUR)

Latar Belakang
          Gay merupakan bentuk perwujudan kelainan pada pria. Proses komunikasi yang terjadi antar dua orang atau lebih akan lebih efektif ketika dilakukan dengan orang yang memiliki latar belakang yang sama. Dalam pergaulan dunia gay ada unsur tersendiri dalam hubungan interaksi mereka yaitu cara berkomunikasi menggunakan bahasa mereka sendiri, lebih tepatnya adalah bahasa homoseksual khususnya dikalangan gay.
Bahasa ini dapat berupa pesan verbal maupun non verbal dan digunakan disaat tertentu. Bahasa tersebut akan lebih termaknai ketika sesama gay ini bertemu, secara langsung maupun tidak langsung. Komunikasi verbal adalah komunikasi yang menggunakan simbol-simbol verbal yang di sampaikan secara lisan.
Pesan verbal merupakan jenis simbol yang menggunakan satu kata atau lebih dari satu kata. Berkaitan dengan bahasa, bahwa bahasa merupakan kode verbal yang dikomunikasikan dan dimaknai oleh komunitas, budaya atau anggota yang memahaminya. Bahasa gay yang sangat mudah dikenali ini banyak memakai akhiran kata “ONG” dan “ES” disetiap kalimat, seperti bencES/ Encra (banci), lekES/ lekONG, lesbONG (lesbian), mekONG (makan) dan masih banyak lagi.

Landasan Teori
          Berdasarkan penelitian ini, peneliti memfokuskan pada komunikasi diadik dengan identifikasi masalah “pesan-pesan verbal yang dimaknai dalam suatu simbol sebagai bahasa antarpribadi”.          Komunikasi pada dasarnya merupakan tindakan yang dilakukan dengan menggunakan lambang-lambang. Lambang-lambang yang paling umum digunakan dalam komunikasi antar manusia adalah bahasa verbal dalam bentuk kata-kata, kalimat, angka-angka atau tanda-tanda lainnya.
Teori konvergensi simbolik ini dipelopori Ernest Bormann. Teori ini menjelaskan bahwa suatu proses pertukaran pesan yang menimbulkan kesadaran kelompok yang menghasilkan hadirnya sebuah makna, motif dan persamaan bersama. Kesadaran kelompok tersebut terbangun dalam suatu kelompok yang membangun semacam makna, motif untuk melakukan tindakan bagi orang-orang yang berada dalam kelompok tersebut. Menurut Ernest Bormann kata lain untuk proses konvergensi simbolik adalah tema fantasi. Bormann mendefinisikan tema fantasi sebagai isi pesan yang didramatisasi hingga memicu rantai fantasi (the content of the dramatizing message that sparks the fantasy chain). Menurut Miller, fantasy theme (tema fantasi), yang diartikan sebagai dramatisasi pesan, dapat berupa lelucon, analogi, permainan kata, cerita dan sebagainya, yang memompa semangat berinteraksi.

HASIL DAN PEMBAHASAN
          Peneliti membahas mengenai komunikasi simbolik yang digunakan oleh kaum homoseksual pada umumnya, lebih spesifiknya kaum homoseksual yang ada di Kota Gorontalo Kecamatan Kota Utara Kelurahan Wongkaditi Timur.  
1.   Keberadaan Homoseksual Di Wongkaditi Timur
Wongkaditi Timur merupakan kelurahan yang berbatasan dengan Kelurahan Dulomo, Desa Toto, Kelurahan Wongkaditi Barat dan Dembe II. Kehidupan mereka umumnya seperti warga di kelurahan ini. Keberadaan homoseksual di kelurahan ini memang sangat tidak terlihat karena pada pagi harinya mereka lebih melakukan aktifitas seperti warga normal.
Dalam penelitian ini peneliti mencoba untuk mengidentifikasi bahasa simbolik yang digunakan oleh waria ketika berada di salon yang ada di Kelurahan Wongkaditi Timur dan Dembe II. Wongkaditi Timur merupakan salah satu kelurahan yang didatangi oleh homoseksual yang umumnya bukan tinggal dari kelurahan ini di karenakan ada aktifitas mereka bersama warga yang tinggal di kelurahan ini hanya untuk datang untuk melakukan kegiatan karaoke di setiap pesta-pesta pernikahan warga yang bersebelahan dengan kelurahan ini atau pun dikelurahan ini.

2.   Pesan Simbolik Interaksi dalam Kaum Homoseksual
Hubungan interaksi kaum homoseksual sangat unik dengan cara merubah kata atau menambahkan kata sehingga makna dari arti kata tersebut memiliki arti tersendiri yang hanya dimengerti oleh mereka sendiri. Istilah atau Bahasa yang digunakan oleh kaum homoseksual terdiri dari beberapa jenis. Ada yang berimbuhan, kata serapan dan kata plesetan.
Istilah yang berimbuhan adalah merupakan kata yang ditambahkan beberapa huruf entah dibelakang kata, tengah kata atau depan kata. Dalam kata yang berimbuhan identitas katanya akan mudah dikenali, dari mana bahasa ini dan siapa yang menggunakannya. Istilah plesetan merupakan istilah yang tidak berdasarkan dari kata apapun, karena memang istilah plesetan tidak berasal dari sumber manapun atau nama apapun. Karena tidak berasal dari sumber manapun istilah ini memiliki ciri-ciri yang sangat susah dikenali maknanya.

KESIMPULAN
Kesimpulan antara lain :
1.    Kata dalam bahasa homoseksual dapat dikenali dari klasifikasi istilah yang berimbuhan, istilah serapan dan istilah plesetan. Kata dalam istilah homoseksual lebih cenderung dikemas dalam suatu simbol sehingga pesan tersebut menjadi pesan simbol para kaum homoseksual yang memiliki makna yang hanya dimengerti oleh para penuturnya.
2.    Bahasa dalam istilah homoseksual tidak saja mampu dituturkan oleh kaum homoseksual saja, akan tetapi istilah – istilah tersebut telah menyebar ke kalangan masyarakat diluar dari komunitasnya atau masyarakat normal. Hal ini dikarenakan mereka yang memiliki hubungan pertemanan dan hubungan spesial dengan para kaum homoseksual. Bahasa dalam istilah homoseksual dapat berubah kapan saja dikarenakan bahasa ini melakukan perubahan sesuai dengan trend masa kini. Saran antara lain : Bagi Masyarakat,
1.    Peranan dari keluarga sangat dibutuhkan untuk tumbuh kembang anak kedepan. Maka dari itu sangat dibutuhkan pola asuh yang baik dari keluarga terutama dalam menjalin komunikasi yang baik dengan anak. Ini dilakukan agar keluarga bisa tetap mengawasi aktivitas yang terjadi diluar lingkungan keluarga.
2.    Untuk para remaja kiranya dapat menyadari karakteristik kaum homoseksual terutama gay dari penampilan, sifat dan juga tutur kata.
3.    Untuk peneliti selanjutnya hendaknya dalam melakukan penelitian homoseksual harus melakukan tindakan silang, peneliti wanita lebih cenderung untuk melakukan penelitian pada kaum homoseksual gay dan waria. Sebaliknya dengan peneliti laki – laki hendaknya dalam melakukan penelitian homoseksual lebih cenderung ke lesbian. Hal tersebut berguna untuk menjaga keselamatan atau ancaman lain dari para homoseksual untuk para peneliti selanjutnya. Bagi Pemerintah;
1.    Kiranya untuk pemerintah setempat, kaum homoseksual merupakan bagian dari masyarakat yang ingin di terima di tengah-tengah lingkungan sosial. Oleh karena itu pemerintah kiranya dapat mendukung serta memberikan arahan dan memberikan kesempatan kepada mereka untuk bisa ikut serta dalam mensosialisasikan tentang kesehatan seperti halnya dengan memperingati hari HIV/AIDS kepada masyarakat, agar kiranya mereka tidak dianggap lagi sebagai masyarakat yang termajinalkan.





Daftar Pustaka

Rabu, 11 April 2018

FUNCTIONAL PERSPECTIVE ON GROUP DECISION MAKING Of Randy Hirokawa & Dennis Gouran

Functional perspektif adalah pendekatan yang mendeskripsikan dan memprediksi sebuah preformence grup ketika empat fungsi komunikasi terpenuhi. Randy Hirokawa dan Dennis Gouran berasumsi bahwa setiap grup itu peduli dengan adanya masalah, setiap kelompok memiliki kecerdasaannya masing-masing, dan tengah menghadapi suatu tugas yang menantang lebih banyak fakta-fakta, ide-ide baru dan berfikir jernih. Mereka yakin bahwa interaksi dalam kelompok mempunyai dampak positif dengan membuat keputusan (decision making). Hirokawa membahas solusi kualitas quality. Sedangkan Gouran membahas  keputusan yang tepat appropriate.

Contoh kasus:  Terbentuk dua kelompok dalam satu kelas XI-IPS, untuk melengkapi nilai UTS Agama Islam, yaitu ditugaskan untuk membuat acara “Bakti Sosial” di Panti Jompo. Kelompok A dengan Raihan dan Kelompok B dengan Andre.

EMPAT FUNGSI DARI MENGAMBIL KEPUTUSAN YANG EFEKTIF
1.   Analisis Masalah       
“Apakah sesuatu yang terjadi membutuhkan peningkatan atau perubahan?”
Dari awal, kelompok A tidak terlalu memikirkan acara bakti socialnya tersebut dan tidak melakukan survey terlebih dahulu atau menganalisa masalah yang ada di Panti Jompo. Sementara kelompok B  bersepakat untuk melakukan survey dan menganalisa masalah yang ada di Panti Jompo. Dengan menganalisa masalah apa saja yang ada di Panti Jompo entah orang-orang yang berada di Panti Jompo nya itu terlalu sensitive, maka kelompok B akan lebih gampang untuk menyusun susunan acara apa saja yang akan di bawakan mereka, karena mereka mengetahui batasan-batasan yang ada di sana.

2.   Pengaturan Tujuan
“Anggota kelompok harus jelas dengan apa yang mereka berusaha capai”.
Kelompok A tidak pernah membicarakan tentang tujuan, target atau objektif apa saja yang akan di lakukan di sewaktu acara, Kelompok A mengatakan bahwa kita bisa melakukan apa saja di waktu acara, melakukan bakti social dan mendapatkan nilai sudah lebih dari cukup.  Sedangkan Kelompok B mempunyai kesepakatan akan Tujuan yang akan di capai. Yaitu, membuat para Panti Jompo terhibur akan kehadiran mereka dalam membawakan acara yang di adakan adalah tujuan mereka.

3.   Identifikasi Alternatif
“Pilihan alternatif untuk mencukupi setiap masalah”.
Kelompok A setiap berkumpul sama sekali tidak membicarakan cara alternatif lain jika para Panti Jompo tidak merasa terhibur akan ke hadiran mereka. Menurut mereka kebersamaan saat berkumpul untuk menggalang dana sudah cukup. Kelompok B lebih memikirkan alternatif cara lain jika para Panti Jompo tidak terhibur, dan akan membuat pentas seni tari di akhir acara.

4.   Evaluasi Dari Karakteristik Positif dan Negatif
“Menguji ciri relatif dari setiap pilihan terhadap kriteria yang di pilih”.
Saat di hari H acara, Kelompok A memiliki masalah saat acara dimulai, karena Kelompok A tidak memiliki opsi lain, evaluasi mereka terhadap karakteristik relatif singkat. Banyak hal yang tidak mereka evaluasi. Tetapi, sumbangan kelompok A lah yang paling besar karena mereka melakukan menggalang dana dengan cara berjualan makanan di sekolah. Sementara Kelompok B mereka mengevaluasi kekurangan dan kelebihan dari acara yang di bawakannya, dan pada akhirnya kelompok mereka lancar saat hari H acara hingga selesai.  

HASIL YANG DAPAT DI PREDIKSI
          Bisa di lihat, saat di hari H acara Kelompok B yang memiliki fungsi di atas tidak merasa kesulitan ataupun kegagalan saat acara berlangsung, sementara kelompok A yang tidak memiliki empat fungsi di atas merasa kesulitan dan kewalahan saat di hari H, mereka tidak memiliki plan ke-2 sama sekali, sedangkan Kelompok B memiliki plan ke-2 jika acaranya kurang memuaskan.

PRIORITASKAN EMPAT FUNGSI
          Studi mengatakan bahwa fungsi yang paling penting adalah fungsi Evaluasi dari Karakteristik Positif dan Negatif atau Evaluation of Positive and Negative Characteristics. 

PERAN DARI KOMUNIKASI DALAM MEMENUHI FUNGSI
Hirokawa dan Gourant menyebutkan beberapa rintangan yang sulit dalam proses pengambilan keputusan, yaitu mengabaikan masalah, fakta-fakta yang salah, asumsi dengan pedoman yang salah, kesimpulan yang tidak logis, berdasar pada pengaruh anggota kelompok yang berkuasa, dbs. Mereka percaya, melalui pembicaraan (talk) kelompok bisa tersesat. Namun keduanya juga percaya bahwa komunikasi memiliki kekuatan unuk menarik kelompok kembali pada jalur tujuan yang sebenarnya.
Karena keyakinan itulah, Hirokawa dan Gouran menyebutkan tiga tipe komunikasi dalam decision-making suatu kelompok, yaitu:
1.   Promotive,  yaitu menggerakan kelompok dalam mengajak untuk mencapai tujuan
2.  Disruptive, yaitu interaksi mengalihkan, memperlambat atau menghalangi kemampuan anggota kelompok.
3.   Counteractive,  Back on Track

SARAN UNTUK MEREKA YANG TAHU BAHWA MEREKA BENAR
Ada 6 langkah untuk pemikiran yang reflektif:
1.    Recognize sympotoms of illness (sadari apa yang salah)
2.    Diagnose the cause of ailment (cari tahu penyebabnya)
3.    Establish criteria for wellness (cari tahu criteria perbaikan)
4.    Consider possible remedies (cari kemungkinan pemecahan masalah)
5.    Test of determine which solutions will work (uji solusi)
6.    Implement or prescribe the best solution (gunakan solusi terbaik)

REFLEKSI ETIKA: ETIKA PIDATO OLEH HABERMAS
Ada 3 Ideal Speech Situation dimana partisipan bebas untuk mengemukakan pendapat tanpa rasa takut akan kendala atau control.
1.    Requirement of access yaitu semua partisipan punya akses untuk berpendapat
2.    Requirement for argument yaitu semua partisipan punya akses untuk berargumen.
3.  Requirement for justification yaitu pendapat yang diutarakan harus bersifat universal, bukan hanya menguntungkan pihak yang menyetujuinya.